Dia
Jauh di atas
Berjuta tahun cahaya
Dia
Sang buah hati
Ayahanda Surya dan Ibunda Purnama
Dia
Yang bermain saat Ibunda cemerlang
Yang terlelap saat Ayahanda berderang
Dia
Yang remang cahayanya
Hangat selimuti gelapnya malam
Dia
Yang senandung anginnya
Lembut mengalun lulabi dunia mimpi
Dia
Bintang Kejora
Yang mencintaiku dari angkasa
-----
Ksatria Bumi's POV
Malang yang dingin
08 Mei 2008
21:22
Showing posts with label ucap sang pena. Show all posts
Showing posts with label ucap sang pena. Show all posts
Saturday, May 10, 2008
Thursday, March 13, 2008
bintang bumi..
putri bintang..
nun jauh di atas sana
di hamparan kelamnya sutra malam
berkedip riang
segenap raga menghamburkan gemerlap hati
menanti balas tatap seseorang di bawah sana
ksatria bumi..
di bawah selubung galaksi
menengadah
mencari-cari
secercah kilau
cahaya terindah
mengerling di sudut alam raya
bersua dalam kecepatan cahaya
menembus ruang hampa
bersaksikan ibunda purnama
dan senandung semilir angin
mesra..
suka cita sejoli
berbuah iri hati
awan hitam yang tak sudi
tertinggal sepi sendiri
berdiri menengahi
ksatria dan sang putri
ksatria bumi..
kembali mencari
kemana hilangnya
gemerlap kilau kasih
putrinya yang cantik
putri bintang..
tak lagi cemerlang
meredup
merindu
ksatrianya yang tangguh
sampai jumpa putri..
kan kutelusuri berkas sinarmu
ke segenap penjuru angkasa raya
tunggu aku di salah satu sudut semesta
sampai jumpa ksatria..
kan kukirimkan berkas sinarku
ke segenap jengkal setapak bumi
kutunggu kau disini
bima sakti
aku menunggumu..
di sudut bima sakti
-----
malang, 12 maret 2008
22:44
ditulis atas permintaan renny, yang
ingin membaca puisi berbintang..
nun jauh di atas sana
di hamparan kelamnya sutra malam
berkedip riang
segenap raga menghamburkan gemerlap hati
menanti balas tatap seseorang di bawah sana
ksatria bumi..
di bawah selubung galaksi
menengadah
mencari-cari
secercah kilau
cahaya terindah
mengerling di sudut alam raya
bersua dalam kecepatan cahaya
menembus ruang hampa
bersaksikan ibunda purnama
dan senandung semilir angin
mesra..
suka cita sejoli
berbuah iri hati
awan hitam yang tak sudi
tertinggal sepi sendiri
berdiri menengahi
ksatria dan sang putri
ksatria bumi..
kembali mencari
kemana hilangnya
gemerlap kilau kasih
putrinya yang cantik
putri bintang..
tak lagi cemerlang
meredup
merindu
ksatrianya yang tangguh
sampai jumpa putri..
kan kutelusuri berkas sinarmu
ke segenap penjuru angkasa raya
tunggu aku di salah satu sudut semesta
sampai jumpa ksatria..
kan kukirimkan berkas sinarku
ke segenap jengkal setapak bumi
kutunggu kau disini
bima sakti
aku menunggumu..
di sudut bima sakti
-----
malang, 12 maret 2008
22:44
ditulis atas permintaan renny, yang
ingin membaca puisi berbintang..
Labels:
ucap sang pena
Wednesday, March 12, 2008
teruntuk jeng ell..
menyerahlah...
alam raya tak ingin nikmatnya kau hisap dengan cuma-cuma
benteng tembok airnya kan bertahan dengan deras
mengungkungmu..
wahai wanita dalam ruang penantian
p.s: ditulis dalam rangka membalas sms-nya jeng ell, dalam malam yang berhujan..
alam raya tak ingin nikmatnya kau hisap dengan cuma-cuma
benteng tembok airnya kan bertahan dengan deras
mengungkungmu..
wahai wanita dalam ruang penantian
p.s: ditulis dalam rangka membalas sms-nya jeng ell, dalam malam yang berhujan..
Labels:
ucap sang pena
tentang hujan
si angin timur bertiup lagi
tidak dengan gemulai sepoi perlahan
namun dengan deru laju terburu
menghempas serabut kapas putih sang awan
membuatnya kelam menghitam tak lagi tenang
lihatlah kilau cahaya berkelebat di matanya
dengarlah gema geramnya..
oh...
bulir-bulir sedihnya tak lagi terbendung
menetes
merintik
menggerimis
menderas...
bumi tak lagi dahaga
karena sang awan yang bersedih
sebab angin timur yang bertiup terburu...
p.s: ditulis tadi malam..
tidak dengan gemulai sepoi perlahan
namun dengan deru laju terburu
menghempas serabut kapas putih sang awan
membuatnya kelam menghitam tak lagi tenang
lihatlah kilau cahaya berkelebat di matanya
dengarlah gema geramnya..
oh...
bulir-bulir sedihnya tak lagi terbendung
menetes
merintik
menggerimis
menderas...
bumi tak lagi dahaga
karena sang awan yang bersedih
sebab angin timur yang bertiup terburu...
p.s: ditulis tadi malam..
Labels:
ucap sang pena
Subscribe to:
Posts (Atom)

